Program Affiliate Indowebmaker

Jumat, 28 Februari 2014

Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar Kepada Anak.

ويجب أيضا على من مر نهيه عن المحرمات وتعليمه الواجبات ونحوها من سائر الشرائع الظاهرة ولو سنة كسواك وأمره بذلك
ولا ينتهي وجوب ما مر على من مر إلا ببلوغه رشيدا وأجرة تعليمه ذلك كالقرآن والآداب في ماله ثم على أبيه ثم على أمه

Dan wajib pula terhadap orang-orang yang telah disebutkan (ayah, ibu, kakek dan seterusnya), mencegah/melarang mumayyiz (anak-anak yang telah mampu makan, minum dan beristinja' (bersuci dari kencing dan berak) dengan sendirinya) dari segala sesuatu yang diharamkan dalam agama. Dan wajib pula mengajarinya seluruh kewajiban (seperti shalat, puasa, zakat, haji dan juga hal yang berkaitan dengannya seperti rukun-rukun dan syarat-syarat) dan juga yang seumpama kewajiban, yaitu semua syari'at yang dhahir (diketahui oleh semua lapisan masyarakat Islam) walaupun syariat tersebut adalah sunat, seperti mengajarinya tentang bersugi/bersiwak (menggosok gigi) dan memerintahkannya dengan bersugi.

Kepada orang-orang yang telah disebutkan, kewajiban yang telah disebutkan ini tidak berakhir sehingga mumaiyiz tersebut sampai pada masa Rasyid (mampu menjaga agama dan harta dengan benar).
Beban biaya pendidikan anak-anak seperti belajar al-Quran dan Adab (Tasauf) diambil dari harta si anak, jika tidak ada maka dari harta bapaknya kemudian dari harta ibunya.

Wallahua'lam.
Fathul Mu'in, Juz. I, Hal. 25, Cet. Daar Ihya al-Kutub al-'Arabiyah, Indonesia.

Nasab Saiyidina Rasulullah al-Musthafa

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذى أرسل رسوله رحمة للعالمين. اللهم صل و سلم على سيدنا محمد سيد المرسلين. صلاة دائمة تدوم إلى يوم الدين. وعلى آل سيدنا محمد و أزواجه وذريته الطاهرين. و صحبه النجوم الهادى فى أمور الدين و الدال على مهمة بذكر مولد خاتم المرسلين. و على التابعين و تابع التابعين المرشدين. أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمد رسول الله. أما بعد


Rasulullah s.a.w. panutup segala Nabi dan Rasul yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam adalah Saiyidina Muhammad bin 'Adullah dari Ibunda (baca: Isterinya) Aminah binti Wahab az-Zuhriyah[1] al-Quraisyiah.
  • Abdullah anak 'Abdul Muth-thalib dari Ibunda Fathimah binti 'Amru al-Makhzumiyah[2] al-Quraisyiah.
  • 'Abdul Muth-thalib anak Hasyim dari Ibunda Salma binti 'Umar an-Najjariyah[3] al-Khazrajiyah.
  • Hasyim anak 'Abdul Manaf dari Ibunda 'Atikah binti Murrah as-Sulamiyah[4].
  • 'Abdul Manaf anak Qushay dari Ibunda Hubbiy binti Halil al-Khuza'iyah[5].
  • Qushay anak Kilab dari Ibunda Fathimah binti Sa'd dari Negeri Yaman dari Kabilah Azda Syanu-ah.
  • Kilab anak Murrah dari Ibunda Hindun binti Sarir dari Bani Fihr bin Malik.
  • Murrah anak Ka'ab dari Ibunda Wahsyiah binti Syaiban dari Bani Fihr juga.
  • Ka'ab anak Lu-ay dari Ibunda Ummu Ka'ab Mariyah binti Ka'ab dari Bani Qudha'ah.
  • Lu-ay anak Ghalib dari Ibunda Ummu Lu-ay Salma binti 'Amru dari Bani al-Khuza'iy.
  • Ghalib anak Fihrin dari Ibunda Ummu Ghalib Laily binti Huzail.
Menurut pendapat kebanyakan Ulama, yang dimaksud dengan Quraisy adalah Fihrin.
  • Fihrin anak Malik dari Ibunda Jandalah binti al-Harb dari Bani Jurhum.
  • Malik anak an-Nadhri dari Ibunda 'Atikah binti 'Adwan dari Bani Qais 'Ailan.
  • an-Nadhri anak Kinanah dari Ibunda Barrah Binti Murr bin Idd.
  • Kinanah anak Khuzaimah dari Ibunda 'Awwanah binti Sa'd dari Bani Qais 'Ailan.
  • Khazaimah anak Mudrikah dari Ibunda Salma binti Aslam dari Bani Qudha'ah.
  • Mudrikah anak Ilyas dari Ibunda Khandaf, seorang wanita teladan dalam hal kehormatan dan keperkasaan.
  • Ilyas anak Mudhar dari Ibunda ar-Rabbab binti Jundah bin Ma'd.
  • Mudhar anak Nizar dari Ibunda Saudah binti 'Ak.
  • Nizar anak Ma'd dari Ibunda Mu'anah binti Jauyam dari Bani Jurhum.
  • Mu'ad anak 'Adnan.
Inilah nasab Rasulullah yang mulia yang telah disepakati (muttafaqun 'alih) oleh Ulama Tarikh dan Ulama Hadits. Adapun nasab beliau setelahnya terdapat perbedaan pendapat, namun semua sepakat bahwa nasab Rasulullah s.a.w. sampai kepada Nabi Isma'il bin Nabi Ibrahim sebagai bapak bangsa Arab al-Musta'ribah.[6]
Adapun nasab Rasulullah dari pihak Ibunda adalah Aminah binti Wahhab 'Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilab. Jadi nasab Rasulullah dari pihak Ibunda bersatu dengan pihak Ayahanda beliau yaitu Kilab bin Murrah.


Catatan:
[1] Bani Zahrah bin Kilab dari suku Quraisy
[2] Bani Makhzum bin Yaqdhah bin Murrah dari suku Quraisy
[3] Bani Najjar dari suku al-Khazraj, salah satu dari dua Kabilah yang mendiami kota Madinah. Suku lainnya bernama al-Aus, Aus dan Najjar adalah dua bersaudara. Setelah hijrah ke Madinah Rasulullah menamakan kedua Kabilah tersebut dengan Anshar.
[4] Bani Salim bin Manshur, salah satu Kabilah Qais 'Ailan bin Mudhar
[5] Bani Khuza'ah bin 'Amru, salah satu Kabilah Qum'ah bin Ilyas bin Mudhar. Kabilah inilah yang menguasai Ka'bah sebelum Quraiys.
[6] Syaikh Muhammad Khudhari Bek, Nurul Yaqin fi Sirati Saiyidil Mursalin, hal. 3-5, cet. 11, Syirkah Bungkul Indah. Surabaya. Indonesia [Note: Ringkasan].

Sholat Kebutuhan Ruhani dan Jasmani

باب الصلاة


Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Segala Puji bagi Allah Ta'aala, Yang Maha Pembuka Jalan, Maha Dermawan, dan Maha Penolong di dalam memahami ajaran agama bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih. Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang haq untuk disembah kecuali hanyalah Allah Ta'aala dengan kesaksian yang memasukkan kita ke dalam Surga yang kekal, dan aku bersaksi bahwasanya Sayyidinaa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, yang menempati kedudukan yang mulia, semoga Sholawat Allah atas beliau dan atas keluarga beliau beserta para shahabat beliau, sholawat dan salam yang aku berbahagia karenanya  di hari kiamat.

Sebaimana Alloh swt, berfirman didalam surat Al- Ankabut 45.

اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [٢٩:٤٥]

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Maka daripada itu hendaklah bagi kaum muslimin mengetahui apa apa yang hendak diperhatikan dalam menjalankan roda kehidupannya guna menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat dengan melaksanakan apa apa yang diperintahkan Alloh dan Rosulnya, sehingga tercipta manusia yang selalu dan taat dalam menjalani ibadahnya baik yang mahdzoh ataupun ghoir mahdzoh. Taat bukan berarti takut namun mengerjakan segala sesuatu dipenuhi rasa ikhlas karena menjadi kebutuhan.

Kami penulis sedikit membahas hal ihwal tentang sholat yang dikutip dari kitab FathulMu'in  karya Syekh zainuddin bin Abdul Azij al-malibari  baik dilakukan secara berjamaah ataupun sholat yang ditinggalkan secara tidak disengaja karena tidur atau udur (sakit) dan atupun sholat yang ditinggalkan secara sengaja.

بَابُ الصَّلَاةِ هِيَ شَرْعًا أَقْوَالٌ وَأَفْعَالٌ مَخْصُوْصَةٌ مُفْتَتَحَةٌ بِالتَّكْبِيْرِ مُخْتَتَمَةٌ بِالتَّسْلِيْمِ وَسَمَيْتُ بِذَلِكَ لِاِشْتِمَالِهَا عَلَى الصَّلَاةِ لُغَةً وَهِيَ اَلدُّعَاءُ وَالْمَفْرُوْضَاتُ الْعَيْنِيَّةُ خَمْسٌ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ مَعْلُوْمَةٍ مِنَ الدِّيْنِ بِالضَّرُوْرَةِ فَيُكَفِّرُ جَاحِدُهَا

وَلَمْ تُجْتَمَعْ هَذِهِ الْخَمْسُ لِغَيْرِ نَبِيِّنُا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَفُرِضَتْ لَيْلَةُ الْإِسْرَاءَ بَعْدَ النُّبُوَّةِ بِعِشْرِ سِنِيْنَ وَثَلَاثَةِ أَشْهُرٍ لَيْلَةَ سَبْعِ وَعِشْرِيْنَ مِنْ رَجَبَ وَلَمْ تَجِبْ صُبْحُ يَوْمِ تِلْكَ اللَّيْلَةِ لِعَدَمِ الْعِلْمِ بِكَيْفِيَّتِهَا 

Adapun sholat menurut syara' adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang diawali takbir dan diakhiri dengan salam. Rangkaian perbuatan tersebut disebut demikian dikarenakan ia mengandung makna "sholat", yang secara lughawi (bahasa) artinya adalah do'a. Sholat-sholat fardhu 'ain itu ada lima kali yang dikerjakan dalam tiap-tiap hari dan malam, yang mana ini diketahui daripada ajaran agama secara pasti, maka barangsiapa yang menentang ajaran ini dihukumi sebagai kafir. Dan tiada terkumpul ajaran sholat fardhu lima waktu ini kecuali hanya daripada ajaran Nabi kita Muhammad Shollallaahu 'alaihi wa sallam. Dan sholat ini difardhukan pada malam isra' setelah 10 tahun 3 bulan beliau diangkat menjadi Rasul, yakni pada malam 27 daripada bulan Rajab. Dan belum diwajibkan untuk mendirikan sholat shubuh tanggal 27 Rajab disebabkan belum diketahui kaifiyyah (tata cara) mengerjakannya.

 )إِنَّمَا تَجِبُ الْمَكْتُوْبَةُ ) أَيِّ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسِ ( عَلَى ) كُلِّ ( مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ ) أَيْ بَالِغٍ عَاقِلٍ ذَكَرٍ أَوْ غَيْرِهِ ( طَاهِرٍ ) فَلَا تَجِبُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وَصَبِيٍّ وَمَجْنُوْنٍ وَمُغَمٍّى عَلَيْهِ وَسَكْرَانَ بِلَا تَعَدَّ لِعَدَمِ تَكْلِيْفِهِمْ وَلَا عَلَى حَائِضٍ وَنِفَسَاءَ لِعَدَمِ صِحَّتِهَا مِنْهُمَا وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمْ بَلْ تَجِبُ عَلَى مُرْتَدٍ وَمُتَعَدٍّ بِسَكَرٍ

[Sesungguhnya diwajibkan sholat maktubah] yakni sholat lima waktu [atas] setiap [muslim yang mukallaf] yakni telah baligh, berakal sehat, lelaki maupun selain lelaki, [suci]. Maka sholat tidak wajib atas orang kafir, gila, ayan, dan mabuk yang keduanya bukan karena main-main. Hal itu karena mereka tidak kena beban agama, dan tidak diwajibkan atas wanita yang haid dan nifas, karena sholat tidak sah dikerjakan mereka, dan mereka tidak diwajibkan mengqodlo'nya. Selain itu sholattetap diwajibkan bagi orang murtad dan orang yang mabuk akibat main-main.

(وَيَقْتُلُ ) أَيْ ( الْمُسْلِمُ ) الْمُكَلَّفُ الطَّاهِرُ حَدًّا بِضَرْبِ عُنُقِهِ ( إِنْ أَخْرَجَهَا ) أَيْ الْمَكْتُوْبَةَ عَامِدًا (عَنْ وَقْتِ جَمْعٍ) لَهَا إِنْ كَانَ كَسْلًا مَعَ اِعْتِقَادِ وُجُوْبِهَا ( إِنْ لَّمْ يَتُبْ ) بَعْدَ اْلِاسْتِتَابَةِ

Dan dikenakan hadd dipancung lehernya, yakni bagi seorang muslim mukallaf yang dengan sengaja menunda sholat fardhu hingga melewati waktu penjama'annya, ia sengaja malas melakukannya sedangkan ia berkeyakinan bahwa sholat itu wajib dilaksanakan, kemudian ia sudah dianjurkan bertaubat namun ia tidak mau bertaubat

 ( إِنْ لَّمْ يَتُبْ ) بَعْدَ اْلِاسْتِتَابَةِ وَعَلَى نَدْبِ الْاِسْتِتَابَةِ لَا يُضَمَّنُ مِنْ قَتْلِهِ قَبْلَ التَّوْبَةِ لَكِنَّهُ يَأْثِمُ

Dan ada pendapat yang menyebutkan bahwa menyuruh bertaubat itu hukumnya adalah sunnah atau tidak wajib, maka sang algojo atau si pemancung leher orang yang menunda sholat dengan sengaja seperti di atas sebelum ia bertaubat adalah tidak dikenakan hadd/pidana, akan tetapi sang algojo itu telah melakukan dosa.

وَيَقْتُلُ كُفْرًا إِنْ تَرَكَهَا جَاحِدًا وُجُوْبَهَا فَلَا يُغْسَلُ وَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ

Adapun orang yang meninggalkan sholat karena menentangnya sebagai kewajiban, maka dikenakan hukuman mati sebagai orang kafir, ia tidak perlu dimandikan dan tidak pula disholatkan.

 ( وَيُبَادِرُ ) مَنْ مَرَّ ( بِفَائِتٍ ) وُجُوْبًا إِنْ فَاتَ بِلَا عُذْرٍ فَيَلْزَمَهُ الْقَضَاءُ فَوْرًا

Dan apabila seseorang dengan tanpa ada uzur (halangan syar'i) ia meninggalkansholat, maka ia wajib segera melakukan qadha' sholat seketika itu juga.

قَالَ شَيْخُنَا أَحْمَدُ بْنِ حَجَرِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَاَّلذِيْ يَظْهَرُ أَنَّهُ يَلْزَمُهُ صَرْفُ جَمِيْعِ زَمَنِهِ لِلقَضَاءِ مَا عَدَا مَا يُحْتَاجُ لِصَرْفِهِ فِيْمَا لَا بُدَّ مِنْهُ وَأِنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّطُوْعُ

Telah berkata Syaikh Ahmad bin Hajar rahimahullaah Ta'aala: Jelasnya, orang yang tertinggal sholat fardhu haruslah menggunakan kesempatan daripada waktu-waktunya untuk mengqodho' di selain waktu yang digunakan untuk melaksanakan sesuatu yang wajib atasnya, dan juga di selain waktu yang haram baginya melakukan sholat sunnah. Selesai daripada perkataan Syaikh Ahmad bin Hajar rahimahullah.

وَيُبَادِرُ بِهِ نُدْبًا إِنْ فَاتَ بِعُذْرٍ كَنَوْمٍ لَمْ يَتَعِدْ بِهِ وَنِسْيَانِ كَذَلِكَ

Dan hendaknya bersegera untuk melakukan qodho' sholat, apabila sebab tertinggalnya sholat wajib tersebut adalah dikarenakan suatu udzur/halangan seperti misalnya ketiduran atau lupa yang benar-benar lupa dan tidak  main-main.

( وَيُسَنُّ تَرْتِيْبُهُ ) أَيْ الْفَائِتُ فَيَقْضَيْ الصُبْحُ قَبْلَ الظُّهْرِ وَهَكَذَا

( وَتَقْدِيْمُهُ عَلَى حَاضِرَةٍ لَا يُخَافُ فَوْتُهَا ) إِنْ فَاتَ بِعُذْرٍ وَإِنْ خَشِيَ فَوْتُ جَمَاعَتِهَا عَلَى الْمًعْتَمَدِ

Dan disunnahkan untuk melakukan qodho' sholat wajib secara tertib berurutan. Yakni, jika seseorang tertinggal sholat wajib karena suatu udzur yang dibenarkan syar'i, maka disunnahkan melakukan qodho' sholat-sholat yang tertinggal secara berurutan waktunya. Misalnya ia melaksanakan qodho' sholat shubuh sebelum dzuhur. Dan disunnahkan untuk mendahulukan qodho' atas sholat wajib yang tertinggal sebelum sholat wajib yang akan dikerjakannya, kalau ia tidak khawatir kehabisan waktunya. Menurut pendapat yang mu'tamad, bahwa sunnahnya mendahulukan qodho' daripada sholat wajib yang akan dikerjakan itu tetap berlaku, walaupun khawatir akan ketinggalan berjama'ah.

وَإِذَا فَاتَ بِلَا عُذْرٍ فَيَجِبُ تَقدِيْمُهُ عَلَيْهَا أَمَّا إِذَا خَافَ فَوْتُ الْحَاضِرَةُ بِأَنْ يَّقَعَ بَعْضُهَا وَإِنْ قَلَّ خَارِجُ الْوَقْتِ فَيَلْزَمُهُ الْبُدُءُ بِهَا وَيَجِبُ تَقْدِيْمُ مَا فَاتَ بِغَيْرِ عُذْرٍ وَإِنْ فَقَدَ التَرْتِيْبُ لِأَنَّهُ سُنَّةٌ وَالْبِدَارُ وَاجِبٌ

وَيَنْدُبُ تَأْخِيْرُ الرَّوَاتِبَ عَنِ الْفَوَائِتَ بِعُذْرٍ وَيَجِبُ تَأْخِيْرُهَا عَنِ الْفَوَائِتَ بِغَيْرِ عُذْرٍ

Dan apabila ia tertinggal sholat wajibnya tidak dikarenakan suatu udzur yang dibernarkan syar'i, maka ia wajib mendahulukan qodho' daripada sholat wajib yang akan dikerjakannya. Adapun jika ia khawatir kehabisan waktu untuk sholat wajib yang akan ia kerjakan sehingga menyebabkan sebagian pelaksanaan sholat wajib tersebut akan terjadi di luar waktunya, maka dia harus mendahulukan sholat wajib yang akan dikerjakannya dan bukan mendahulukan sholat qodho'nya.

Wajib mendahulukan qodho' sholatwajib yang tertinggal tanpa udzur yang dibenarkan syar'i, atas qodho' sholat yang tertinggal disebabkan suatu udzur yang dibenarkan syar'i, meskipun akan menyebabkan tidak tertib waktunya. Karena tertib itu sunnah hukumnya, sedangkan bersegera adalah wajib hukumnya.

Dan sunnah hukumnya mengakhirkan sholat rowatib setelah melaksanakan qodho' sholat wajib yang tertinggal dikarenakan adanya udzur yang dibenarkan syar'i. Dan akan menjadi wajib hukumnya jika tertinggalnya itu tanpa suatu udzur.

Wallaahu a'lam.

Insya' Allah bersambung.

By. Ahmad Ramdan (Kajian kitan Fathul Mu'in karya   الشبخ زين الدين بن عبد العزيز المليباري )

 

Meraih Berkah dalam Manaqib

Meraih Berkah dalam Manaqib

Image  Image

Sirnarasa, Senin 10 Februari 2014

Para pecinta kesucian jiwa memenuhi lautan tanpa tepi dalam suasana khidmat manaqib di Pesantren Sirnarasa mengharap keberkahan dari karomah Tuan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani qs melalui syekh mursyid fi hadza zaman Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al-Qodiri ra(Abah Aos) yang tersambung kepada seluruh ahli silsilah Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya (TQN PPS).

Di tengah-tengah syahdunya suasana khusyu’, nampak  hadir cucu Tuan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani qs yang ke-25 yakni Syekh Muhammad Fadhil Al-Jailani ra yang berasal dari Turki. Dalam ceramahnya beliau mengatakan, “Syekh Muhammad Abdul Gaos adalah Syekh yang Kaamil Mukammil yang berdiri di atas thoriqoh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani qs.” Beliau menyampaikan rasa hormatnya kepada seluruh jamaah yang hadir.

DSC09589DSC09674Dalam kajian taabaruk kitab Miftahussudur yang dipaparkan oleh KH. Dadang Muliawan, S.Kom.I, menjelaskan tentang pentingnya hidup berthoriqoh yang berjalan atas bimbingan syekh mursyid yang hidup yang mursyid tersebut mengambil jalan thoriqoh syekh sebelumnya yang menjadi gurunya yang terus bersambung kepada para guru (masyayikh) yang tersambung kepada Rosululloh SAW yang senantiasa mengambil jalan atas petunjuk Alloh SWT.

Pada kesempatan lain, khidmat ilmiyah disampaikan oleh kiayi kondang Dr. KH. Jujun Junaedi Mubarok yang meneruskan membahas tentang pentingnya mengambil jalan thoriqoh dari seorang guru mursyid yang hidup. Dengan diselingi beberapa humor segar, para jamaah semakin antusias mendengarkan paparannya yang semakin memberikan kayakinan mereka untuk terus mengikuti jalan thoriqoh melalui bimbingan Abah Aos.

Manaqib diakhiri gema Sholawat Bani Hasyim dan mushofahah kepada Abah Aos dan Syekh Fadhil.

BERSUJUD KEPADA ALLOH

BERSUJUD KEPADA ALLOH


"Ya Alloh, aku memohon pada-Mu agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, mencintai apa-apa yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu. Ya Alloh, jadikanlah mencintai-Mu lebih aku cintai daripada mencintai diriku, keluargaku dan daripada mencintai air yang segar"

Bulan Rajab dimuliakan oleh Alloh Swt. Inilah bulan yang dipenuhi dengan shalat. Semoga shalat yang kita dirikan bisa menjadikan kita mi'raj secara ruhani. Setiap hari kita ikrarkan :WajjaHtu wajhiya lilladzii fathoros samaa waati wal ardh.Pangersa Abah telah mengajarkan dan membimbing kita bagaimana supaya hati ini selalu ingat kepada Alloh, menghadap kepadanya, bertawajuh dalam setiap keadaan.

Menghadapkan wajah kita ke Ka'bah baitullah dalam shalat telah diatur dalam ilmu fiqih. Sedangkan ulama ahli dzikir dalam Tafsir 'Isyari mengatakan bahwa menghadapkan wajah dalam ayat tersebut adalah menghadapkan hati kita kepada Alloh Swt. Alhamdulillah, kita telah dipertemukan dengan Pangersa Abah Anom sehingga kita bisa melaksanakan shalat secara jasmani dan shalat secara ruhani. Meskipun, lebih banyak lupanya kepada Alloh dari pada ingatnya.

Mendekatkan diri kepada Alloh (Taqorrub ilalah) diperintahkan oleh Alloh dalam surat al-'Alaq ayat terakhir (19): ... wasjud waqtarib (... Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). Sujud secara syariat menurut ilmu fiqih adalah tujuh anggota badan kita dihadapkan ke kiblat yaitu dahi menempel ke bumi, 2 telapak tangan, 2 lutut dan 2 kaki yang jari-jarinya dihadapkan ke kiblat. Tapi apakah dalah sujud tersebut kita sudah dekat dengan Alloh? Pangersa Abah dalam kitabnya Miftahus shuduur menerangkan tentang makna dekat (taqorrub, qurbah) seorang hamba kepada Alloh. Seseorang dikatakan jauh dari Alloh bukan karena jaraknya yang jauh tapi lupa kepada Alloh itulah jauh. Dan dekat kepada Alloh juga bukan diukur dengan jarak. Dimana hati seseorang ingat (hadhir) kepada Alloh (tawajuh), berarti dia sedang dekat kepada Alloh. Sehingga ada orang yang sujud badannya, sujud pula hatinya (ingat kepada Alloh). Ada pula orang yang tidak sedang sujud badannya (sedang di pasar, di kantor, di kebun dll.) tapi hatinya selalu ingat kepada Alloh maka dia sedang dekat kepada Alloh. Ada pula orang yang sujud badannya tapi tidak ingat hatinya kepada Alloh berarti dia lupa kepada Alloh, tidak dekat kepada Alloh. Alhamdulillah, kita telah ditunjukkan oleh Pangersa Abah untuk menjadi orang yang pertama dan kedua.

Rasulullah Saw. bersabda : Posisi seorang hamba yang terdekat antara dia dan tuhannya yaitu ketika bersujud

Konsep Berpikir Menurut Imam al-Ghazali

Konsep Berpikir Menurut Imam al-Ghazali

Imam al-ghazali mendefinisikan berpikir (al-fikr) sebagai “menghadirkan dua pengetahuan dalam hati untuk menghasilkan dari keduanya pengetahuan ketiga”.[1] Pengertian ini menjadi jelas jika kata tafakkur dibandingkan dengan apa yang oleh al-Gazhali disebut dengan tadzakkur. Tadzakkur adalah jika (seseorang) hanya berhenti pada batas-batas dua pengetahuan saja, tanpa melampauinya menjadi pengetahuan baru. Siapa saja yang tidak mencari “pengetahuan ketiga maka ia tidak dapat disebut sebagai “orang yang sedang berpikir”. Hal ini karena setiap orang yang mengingat kembali itu berpikir (tadzakkur). Adapun manfaat mengingat kembali (tadzakkur) adalah mengulang-ulang pengetahuan dalam hati agar pengetahuan itu menancap dan tidak lepas dari hati. manfaat berpikir adalah memperbanyak pengetahuan dan menarik pengetahuan yang belum diperoleh.” Al-ghazali menggambarkan berpikir sebagai “penyulut cahaya pengetahuan”. Ia juga menyatakan bahwa cahaya pengetahuan yang muncul dari pikiran dapat mengubah hati sebagai hati memiliki kecenderungan pada sesuatu yang sebelumnya tidak diminati.[2] Selain itu, anggota tubuh bangkit untuk bekerja sesuai dengan tuntutan situasi hati. demikianlah pikiran melewati lima tingkatan : 1) mengingat, yaitu menghadirkan dua pengetahuan dalam hati, 2) berpikir, yaitu mencari pengetahuan yang dituju dari dua pengetahuan tersebut, 3) diperolehnya pengetahuan tersebut dan tersinarinya hati oleh pengetahuan tadi, 4) perubahan kondisi hati, dan terakhir, 5) kesiapan anggota tubuh untuk mengabdi pada hati sesuati dengan kondisi yang baru dialami oleh hati.[3]

Al-ghazali menetapkan alur pikiran, dalam arti wilayah dan masalah-masalah pikiran. Ia mengatakan bahwa alur pikiran terbatas hanya pada “hubungan antara hamba dengan tuhannya. Seluruh pikiran hamba adakalanya berkaitan dengan hamba beserta sifat-sifat dan kondisi-kondisinya, ada kalanya berkaitan dengan yang disembah dengan segala sifat dan perbuatannya. Yang terkait dengan manusia adakalanya berupa penalaran terhadap sesuatu yang disenangi Allah, atau terhadap sesuatu yang tidak disukai. “di luar kedua bagian ini tidak ada perlunya untuk dipikirkan”. Yang terkait dengan allah adakalanya berupa penalaran terhadap substansi, sifat-sifat, dan juga nama-nama_Nya yang indah”, atau terhadap perbuatan-perbuatan, kerajaanm dan kebesarannya, seluruh yang ada di langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya.[4] Berpikir untuk hal terakhir yang berkaitan dengan allah hanya akan menghasilkan pengetahuan “yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang diketahui oleh keseluruhan ulama dan wali”.[5] Apa yang mereka ketahui “sangat sedikit kalau dibandingkan dengan yang diketahui oleh para nabi”. Apa yang diketahui oleh para nabi sangat sedikit apabila dibandingkan dengan yang dikethaui oleh nabi Muhammad SAW. Apa yang diketahui oleh seluruh nabi sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang diketahui oleh para malaikat utama, seperti israfil, jibril dan yang lainnya. kemudian, seluruh pengetahuan yang dimiliki oleh para malaikat, jin dan manusia, tidak tepat jika dikatakan sebagai ilmu apabila dibandingkan dengan pengetahuan Allah. Semua itu lebih dekat kalau disebut dengan keheranan, kebingungan, dan ketidakmampuan.[6]

Menurut al-Ghazali definisi ilmu sebagai “mengetahui sesuatu berdasarkan hakikatnya”. Mengenai ilmu, al-Ghazali mengatakan ahwa ilmu merupakan “salah satu sifat Allah”. Atas dasar ini, ia menegaskan bahwa “ilmu pada dasarnya tidak jelek, namun ia bisa menjadi jelek karena manusia”. Ini berarti bahwa ilmu memiliki batasan-batqasan yang harus dipegangi, tidak boleh dilampaui.

Dalam hal ini al-ghazali menjelaskan batasan-batasan tersebut dengan menyebutkan sebab-sebab yang menjadi ilmu menjadi jelek. Ia mengembalikan hal itu pada tiga hal : 1) jika membahayakan pemiliknya atau orang lain, 2) jika membahayakan pemiliknya pada umunya, atau 3) jika mendalami ilmu yang tidak berguna sebagai ilmu bagi pemiliknya, “seperti mempelajari ilmu-ilmu yang pelik sebelum mengetahui dasar-dasarnya, mempelajari yang samar-samar sebelum mengetahui yang jelas, dan seperti mengkaji rahasia-rahasia ketuhanan”, yang hanya diketahui caranya oleh para nabi dan wali. Oleh karena itu, masalah-masalah ini harus dijauhkan dari kebanyakan orang yang mengembalikan mereka pada apa yang dinyatakan olehsyara”. Untuk memperkuat pendapatnya, al-ghazali memberikan bukti riwayat dari nabi Muhammad saw, bahwa beliau pernah melewati seorang lelaki, sementara banyak orang yang mengitarinya. Beliau bertanya : apa ini? Mereka menjawab: dia orang yang pandai. Beliau bertanya : atas dasar apa? Mereka menjawab puisi dan nasab-nasab bangsa arab. Beliau berkata : “pengetahuan yang tidak berguna, tidak mengetahui pun juga tidak membahayakan”. Dengan demikian, ilmu sebagaimana disebutkan hadits adalah “ayat yang muhkamat, atau tradisi (sunnah) yang jelas, atau kewajiban yang adil”. Semua ilmu selain ilmu tersebut termasuk kebodohan.[7]

(Dikutip dari  : Adonis, sejarah- pemikiran arab-islam, Jogjakarta : LKIS, 2009, p.23-26)

DZIKRULLOH MENGGAPAI MAHABBAH

DZIKRULLOH MENGGAPAI MAHABBAH


"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (QS. At-Taubah : 20)

"HUB" atau cinta adalah suatu gejala emosi yang tumbuh dan bergelora dalam jiwa dan hati manusia, diliputi oleh rasa keinginan dan hasrat yang keras dan meluap-luap terhadap sesuatu hal. Hub atau cinta dapat terjadi pada semua orang dan disemua bidang. Misalnya kepada harta, perniagaan, anak, kepada orang tua (ibu/bapak), dan lain-lain. Cinta kepada semuanya ini tidak dilarang dalam Islam.

Seperti firman Alloh Swt. dalam surat at-Taubah ayat 24 : "Katakanlah : "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu Cintai daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya..." dan surat Ali 'Imran ayat 14 : "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allohlah tempat kembali yang baik".

Ulama atau Cendikiawan Muslim menyimpulkan makna cinta kepada Alloh adalah seseorang menghadapkan dan menyerahkan dirinya, urusannya dan eksistensinya kepada Alloh secara total, bertawakal kepada-Nya, lebih mengutamakan ketaatan kepada-Nya daripada dirinya sendiri, harta, anak dan tahta dan puncak tujuannya adalah Alloh. Dari pengertian ini jelaslah bahwa kecintaan kepada Alloh hendaklah diwujudkan dalam bentuk :

  • Menghadap dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Alloh
  • Bertawakal kepada Alloh
  • Memohon ridho Alloh
  • Mengutamakan ketaatan kepada-Nya.

Hal ini sesuai dengan ikrar yang selalu diucapkan setiap Muslim dalam shalatnya : Inna sholaatii wanusukuu wamahyaaya wamamaati lillaahi robbil 'aalamiin. Dan ikrar yang selalu diucapkan kaum sufi / Ikhwan TQN : Ilaahii anta maqshuudii waridhookamathluubii a'thinii mahabbataka wama'rifataka.

Sudah barang tentu bila seseorang cinta kepada sesuatu, maka sebagian besar pikirannya, ingatan dan perhatiannya tertuju kepada yang dicintainya itu. Timbul perasaan rindu, kagum, hormat, respek dan lain-lain terhadap yang dicintainya. Begitu pula kecintaan kepada Alloh, menjadikan seseorang taat kepada-Nya dan patuh melaksanakan segala perintah-Nya dengan penuh keikhlasan, yang berat terasa ringan, yang jauh terasa dekat dan yang pahitpun terasa manis dan nikmat, bila rasa cinta telah tertanam di hati. Seperti nabi Ibrahim As. Karena kecintaannya kepada Alloh, ia rela mengorbankan putera kesayangannya Ismail As. untuk disembelih, juga Ismail rela menyerahkan dirinya untuk dikorbankan, karena cintanya kepada Alloh Swt.

Begitu pula kisah tentang seorang ibu bernama Siti Khansa, di zaman Rasulullah Saw. relah melepaskan empat anak laki-lakinya untuk ikut berperang bersama Rasulullah Saw. membela agama Islam seraya memberikan do'a restu kepada anak-anaknya : "Kamu berempat adalah anak laki-laki yang lahir dari perut ibumu. Berangkatlah ke medan Jihad dan tancapkanlah ke dalam hati kamu bahwa kehidupan yang kekal dan abadi (akhirat) jauh lebih bahagia dari kehidupan di alam fana ini". Dalam pertempuran tersebut, keempat anaknya gugur sebagai syuhada.

"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (QS. At-Taubah : 20). Kecintaan kepada Alloh dan Rasul-Nya adalah dasar segala amal ibadah. Sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim : Pokok ibadah adalah cinta kepada Alloh, bahkan mengkhususkan cinta hanya kepada-Nya. Hendaklah semua itu hanya kepada Alloh, tidak mencintai yang lain bersamaan mencintai-Nya. Ia mencintai hanyalah kepada Alloh dan di jalan Alloh.

Dari pendapat tersebut, jelahlah bahwa erat hubungannya antara ibadah dengan cinta kepada Alloh. Penghambaan (ibadah) seseorang kepada Alloh adalah diawali rasa cinta yang mendalam kepada-Nya. Tidak ada yang lebih berhak untuk dicintai melainkan Alloh. Dialah Tuhan yang memberikan nikmat yang sangat banyak kepada kita. Kemudian kecintaan kepada Alloh berpengaruh pula bagi pembentukan akhlaq manusia. Artinya dengan kecintaan kepada Alloh, maka manusia akan berusaha mengutakaman perbuatan-perbuatan baik dan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela, seperti mencela, memfitnah, menghasut, dengki dan lain-lain.

ARTIKEL

SEMUA MILIK ALLOH


Semua yang ada di bumi ini, akan binasa. Dan yang tetap abadi hanyalah Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Termasuk kita manusia akan hancur binasa. Jadi mengapa merasa ingin memiliki. Semuanya milik Alloh. Apalagi kalau milik Alloh tersebut kita gunakan untuk hal-hal yang tidak baik seperti menghina orang lain sehingga timbul perselisihan, perkelahian sehingga membuat orang tidak senang. Oleh karena itu, kita harus pasrah dan terbuka. Yakinkan bahwa diri kita tidak punya apa-apa. Tidak pernah mengadakan apa-apa. Tidak pernah membantu apa-apa. Tidak pernah menambah apa-apa. Kita tidak kaya, buka miskin. Tidak pintar bukan bodoh. Semua pemberian Alloh. Kita tidak punya dan tidak memiliki sesuatu. Coba bayangkan, kalau dalam hati kita ada sedikit saja rasa memiliki, apalagi sampai tidak terasa terucapkan, itu sama saja artinya dengan mengambil hak Alloh.

Kita harus terus berpegang teguh kepada Alloh yang Maha Kuasa. Agar mendapat perlindungan sepenuhnya dari-Nya. Penuh pertolongan Alloh, penuh dengan petunjuk Alloh, penuh dengan hidayah Alloh, penuh dengan kasih Alloh. Tapi sebaliknya, apabila AKU yang merasa, aku yang punya, itu artinya mengambil wewenang Alloh. Akibatnya kita akan dipenuhi kebingungan, kesusahan. Meskipun kaya, pintar tapi hatinya penuh dengan kebingungan. Sebagai sorang mu'min, selamanya harus merasa gembira. Kenapa tidak? Seumur hidup merasa dipelihara oleh Alloh. Jika tidak memiliki perasaan tersebut maka perasaan kita akan bingung dan susah selamanya. Semoga Alloh mengampuni kita semua.

Bagi kita yang sedang belajar tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya, mari intropeksi diri. Tingkatkan amal ibadah kita sehingga kita menjadi hamba-Nya. Koreksi diri, sehingga bisa memisahkan yang baik dan yang buruk. Tumbuhkan rasa saling menghormati, menyayangi, tolong menolong supaya kita berada dalam ridhonya. Tidak ada jalan lain kecuali dengan menggunakan dzikir sebagai alatnya. Fainna dzikro saeful mu'miniin. Sesungguhnya dzikir itu pedangnya orang-orang yang beriman. Dzikir itu untuk membasmi, menyingkirkan segala godaan syetan, bujukan nafsu yang datangnya dari luar dan dalam. Setelah kita memiliki senjatanya, tinggal digunakan dengan sebaik-baiknya. insya Alloh terbuka pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. amin ya robbal 'alamiin.

ARTIKEL

JANGAN MERASA DIRI LEBIH MULIA DARI ORANG LAIN


Setiap orang yang beriman hendaknya jangan sampai suka memperlihatkan sikap tidak baik, merasa diri kita lebih mulia daripada orang lain. Ingin menghina pada orang lain. Ingin menghina kepada sesama, karena Alloh telah berfirman : Wahai orang-orang yang beriman jangan suka menghina segolongan diantara kamu kepada golongan lainnya siapa tahu lebih baik yang dihina daripada yang menghina. Hal ini perlu mendapatkan perhatian kita sepenuhnya, sebab hal tersebut secara tidak sadar kita lakukan. Kadang-kadang dirasakan seperti becanda saja, padahal kalau tidak cepat bertobat, bisa menimbulkan dzolim. Artinya menjadi orang yang selalu merasa kegelapan. Gelap dalam arti pikiran dan perasaan. Masalah seperti ini dipandang penting dalah tarekat, sampai ada istilah Muroqobah. Itu gunanya untuk merasakan gerak-gerik kita. Mulai dari ucapan, kelakuan termasuk i'tikad. Jelas tentang hal ini jangan sampai disepelekan.

Seperti yang diterangkan dalam surat at-Taubat dalam al-Quran: Wa ammalladziina fii quluubiHim marodhun fazaadatHum rijsan ilaa rijsiHim wa maa tuuwaHum kaafirinn. Artinya : Orang-orang yang dalam hatinya berpenyakit, gerakan nafsu, ujub, riya, takabur, sombong, bohong, dzolim, khianat, jahat, dengki, benci dan seterusnya. Memang untuk menghina orang lain itu pekerjaan gampang tidak perlu repot-repot. Penyakit tersebut hampir tidak terasa, walaupun ia telah menyusup memasuki daerah perasaan kita. Tetapi kalau kita teliti dengan "kacamata rasa", baru kita menyadari bahwa perasaan kita sudah hampir ambruk. Sebab akibat lupa meneliti diri, bisa menimbulkan keinginan dalam hati untuk menghina orang lain. Padahal dirinya sendiri belum tentu benar. Pada dirinya sendiri banyak hal yang harus disingkirkan, yang pantas jadi ejekan, yang pantas ditiadakan, yang pantas dimusnahkan dan masih banyak kejelekan lainnya. Oleh karena itu sampai kita sempat melihat badan orang lain. Memang begitu lumrahnya, kotoran secuil pada badan orang lain kelihatan jelas, tapi badan sendiri sekujur tubuh penuh dengan kotoran yang menjijikan sama sekali tidak merasa. Lalau apa gunanya kita berdzikir? Kalau keadaan kita masih begitu juga. Padahal dzikir itu adalah sesuatu yang dapat menjadi garis pemisah antara yang baik dan yang jelek.


Dari ucapan saja sudah jelas, yaitu : Tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Alloh Swt. Perintah ini benar-benar sudah jelas dengan ucapan yang nyata. Hasilnya hendaknya supaya berbekas pada amal, supaya tembus sampai i'tikad dengan benar-benar kokoh kuat, bisa memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Dzikir dengan lisan, yang tembus ke dalam hati, langsung tembus ke rasa akan memperlihatkan hasil kebaikan yang nyata pada diri kita. Jangan pura-pura sedang dihadapan umum seperti bersahabat tidak memperlihatkan rasa benci tapi dibelakangnya sebaliknya. Jangan sampai begitu. Singkirkan sifat seperti itu. Untuk apa kita amalkan dzikir yang dua macam yaitu dzikir Jahar yang diucapkan dan dzikir khofi yang diingatkan. Kedua macam dzikir itu guna memberantas segala macam kesalahan. dari kesalahan besar, sedang dan kecil. Dari kesalahan yang terdengar sampai yang tidak kedengaran. Oleh karena itu harus bisa menjelmakan menjadi satu pendirian yang benar-benar Shaleh sehingga bisa menghindarkan diri dari amal yang tidak diridhoi Alloh Swt.

KISAH

KISAH NYATA TENTANG PERJALANAN RUH


Pernahkah anda hadir di sisi seseorang yang tengah menghadapi sakaratul maut, hingga jasadnya dingin, terbujur kaku, tak bergerak, karena ruhnya telah berpisah dengan badan?
Lalu apa perasaan anda saat itu? Adakah anda mengambil pelajaran darinya?
Adakah terpikir bahwa anda juga pasti akan menghadapi saat-saat seperti itu? Kemudian, pernahkah terlintas tanya di benak anda, ke mana ruh itu pergi setelah berpisah dengan jasad?

Hadits yang panjang dari Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah ini memberi ilmu kepada kita tentang hal itu. Sungguh ini suatu berita yang shahih (benar) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan setiap berita yang datang darinya pasti benar adanya karena:
“Tidaklah beliau berbicara dari hawa nafsunya, hanyalah yang beliau sampaikan adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (An-Najm: 3-4)

Simaklah…!

Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkisah,
“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengantar jenazah seorang dari kalangan Anshar. Kami tiba di pemakaman dan ketika itu lahadnya sedang dipersiapkan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk. Kami pun ikut duduk di sekitar beliau dalam keadaan terdiam, tak bergerak. Seakan-akan di atas kepala kami ada burung yang kami khawatirkan terbang.
Di tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu ada sebuah ranting yang digunakannya untuk mencocok-cocok tanah. Mulailah beliau melihat ke langit dan melihat ke bumi, mengangkat pandangannya dan menundukkannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda, “Hendaklah kalian meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari adzab kubur,” diucapkannya sebanyak dua atau tiga kali, lalu beliau berdoa,

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur,” pinta beliau sebanyak tiga kali.
Setelahnya beliau bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit. Wajah-wajah mereka putih laksana mentari. Mereka membawa kain kafan dan wangi-wangian dari surga. Mereka duduk dekat si mukmin sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malak maut ‘alaihissalam hingga duduk di sisi kepala si mukmin seraya berkata,
“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Ruh yang baik itu pun mengalir keluar sebagaimana mengalirnya tetesan air dari mulut wadah kulit. Malak maut mengambilnya. (Dalam satu riwayat disebutkan: Hingga ketika keluar ruhnya dari jasadnya, seluruh malaikat di antara langit dan bumi serta seluruh malaikat yang ada di langit mendoakannya. Lalu dibukakan untuknya pintu- pintu langit. Tidak ada seorang pun malaikat yang menjaga pintu malaikat kecuali mesti berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si mukmin diangkat melewati mereka). Ketika ruh tersebut telah diambil oleh malak maut, tidak dibiarkan sekejap matapun berada di tangannya melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih. Mereka meletakkan/ membungkus ruh tersebut di dalam kafan dan wangi-wangian yang mereka bawa. Dan keluarlah dari ruh tersebut wangi yang paling semerbak dari aroma wewangian yang pernah tercium di muka bumi.
Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya, “Siapakah ruh yang baik ini?”
Para malaikat yang membawanya menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling bagus yang dulunya ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut.
Demikian, hingga rombongan itu sampai ke langit dunia. Mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut. Lalu dibukakanlah pintu langit. Penghuni setiap langit turut mengantarkan ruh tersebut sampai ke langit berikutnya, hingga mereka sampai ke langit ke tujuh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Tulislah catatan amal hamba-Ku ini di ‘Illiyin dan kembalikanlah ia ke bumi karena dari tanah mereka Aku ciptakan, ke dalam tanah mereka akan Aku kembalikan, dan dari dalam tanah mereka akan Aku keluarkan pada kali yang lain.”

Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah. Maka sungguh ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburnya ketika mereka pergi meninggalkannya. Lalu ia didatangi dua orang malak yang sangat keras hardikannya, keduanya menghardiknya, mendudukkannya lalu menanyakan padanya,
“Siapakah Rabbmu?” Ia menjawab, “Rabbku adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ditanya lagi, “Apa agamamu?” “Agamaku Islam,” jawabnya. “Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malak lagi “Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya
“Apa amalmu?” pertanyaan berikutnya “Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman dan membenarkannya,” jawabnya.
Ini adalah fitnah/ujian yang akhir yang diperhadapkan kepada seorang mukmin. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkannya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Allah menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tsabit/ kokoh dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat.” (Ibrahim: 27)

Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, “Telah benar hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga!” Lalu datanglah kepada si mukmin ini wangi dan semerbaknya surga serta dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang.
Kemudian ia didatangi oleh seseorang yang berwajah bagus, berpakaian bagus dan harum baunya, seraya berkata, “Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.” Si mukmin bertanya dengan heran, “Siapakah engkau? Wajahmu merupakan wajah yang datang dengan kebaikan.” “Aku adalah amal shalihmu. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan seorang yang bersegera menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lambat dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kebaikan,” jawab yang ditanya
Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu neraka, lalu dikatakan, “Ini adalah tempatmu seandainya engkau dulunya bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan bagimu dengan surga ini.” Maka bila si mukmin melihat apa yang ada dalam surga, ia pun berdoa, “Wahai Rabbku, segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.” Dikatakan kepadanya, “Tinggallah engkau.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan penuturan beliau tentang perjalanan ruh.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (dalam satu riwayat: hamba yang fajir) apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit para malaikat yang keras, kaku, dan berwajah hitam. Mereka membawa kain yang kasar dari neraka. Mereka duduk dekat si kafir sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah malak maut hingga duduk di sisi kepala si kafir seraya berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Ruh yang buruk itu pun terpisah-pisah/ berserakan dalam jasadnya, lalu ditarik oleh malak maut sebagaimana dicabutnya besi yang banyak cabangnya dari wol yang basah, hingga tercabik-cabik urat dan sarafnya.
Seluruh malaikat di antara langit dan bumi dan seluruh malaikat yang ada di langit melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup. Tidak ada seorang pun malaikat penjaga pintu kecuali berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si kafir jangan diangkat melewati mereka. Kemudian malak maut mengambil ruh yang telah berpisah dengan jasad tersebut, namun tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malak maut melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam lalu dibungkus dalam kain yang kasar.
Dan keluarlah dari ruh tersebut bau bangkai yang paling busuk yang pernah didapatkan di muka bumi. Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya, “Siapakah ruh yang buruk ini?” Para malaikat yang membawanya menjawab, “Fulan bin Fulan,” disebut namanya yang paling jelek yang dulunya ketika di dunia ia dinamakan dengannya. Demikian, hingga rombongan itu sampai ke langit dunia, mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut, namun tidak dibukakan.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat:
“Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum.” (Al-A’raf: 40)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‘Tulislah catatan amalnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah.’ Lalu ruhnya dilemparkan begitu saja.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat: “Dan siapa yang menyekutukan Allah maka seakan-akan ia jatuh tersungkur dari langit lalu ia disambar oleh burung atau diempaskan oleh angin ke tempat yang jauh lagi membinasakan.” (Al-Hajj: 31)

Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah. Lalu ia didatangi dua orang malak yang sangat keras hardikannya. Keduanya menghardiknya, mendudukkannya dan menanyakan kepadanya, “Siapakah Rabbmu?” Ia menjawab, “Hah… hah… Aku tidak tahu.” Ditanya lagi, “Apa agamamu?” “Hah… hah… Aku tidak tahu,” jawabnya. “Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malak lagi. Kembali ia menjawab, “Hah… hah… aku tidak tahu.”
Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan, “Telah dusta orang itu. Maka bentangkanlah untuknya hamparan dari neraka dan bukakan untuknya sebuah pintu ke neraka!”
Lalu datanglah kepadanya hawa panasnya neraka dan disempitkan kuburnya hingga bertumpuk-tumpuk/ tumpang tindih tulang rusuknya (karena sesaknya kuburnya).
Kemudian seorang yang buruk rupa, berpakaian jelek dan berbau busuk mendatanginya seraya berkata, “Bergembiralah dengan apa yang menjelekkanmu. Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.”
Si kafir bertanya dengan heran, “Siapakah engkau? Wajahmu merupakan wajah yang datang dengan kejelekan.” “Aku adalah amalmu yang jelek. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu ini melainkan sebagai orang yang lambat untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun sangat bersegera dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kejelekan,” jawab yang ditanya.
Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, bisu lagi tuli. Di tangannya ada sebuah tongkat dari besi yang bila dipukulkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur menjadi debu. Lalu orang yang buta, bisu dan tuli itu memukul si kafir dengan satu pukulan hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan jasadnya sebagaimana semula, lalu ia dipukul lagi dengan pukulan berikutnya. Ia pun menjerit dengan jeritan yang dapat didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia.
Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu neraka dan dibentangkan hamparan neraka, maka ia pun berdoa, “Wahai Rabbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat.” (HR. Ahmad 4/287, 288, 295, 296, Abu Dawud no. 3212, 4753, dll, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud dan Ahkamul Jana`iz hal. 202)

Pembaca yang mulia, maka setelah membaca pengabaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, masihkah tersisa angan yang panjang dalam kehidupan dunia ini?

Adakah jiwa masih berani bermaksiat kepada Rabbul ‘Izzah dan enggan untuk taat kepada-Nya?

Manakah yang menjadi pilihan saat harus menghadapi kenyataan datangnya maut menjemput: ruh diangkat dengan penuh kemuliaan ke atas langit lalu beroleh kenikmatan kekal, ataukah diempaskan dengan hina-dina lalu beroleh adzab yang pedih?
Bagi hati yang lalai, bangkit dan berbenah dirilah untuk menghadapi “hari esok” yang pasti datangnya. Adapun hati yang ingat, istiqamah-lah sampai akhir…
Sungguh hati seorang mukmin akan dicekam rasa takut disertai harap dengan berita di atas, air mata mengalir tak terasa, tangan pun tengadah memohon kepada Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang,

“Ya Allah, berilah kami taufik kepada kebaikan dan istiqamah di atasnya sampai akhir hidup kami...
Jangan jadikan kami silau dan tertipu dengan kehidupan dunia yang fana hingga melupakan pertemuan dengan-Mu...
Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah...
Lindungi kami dari adzab kubur dan dari siksa neraka yang amat pedih...
Ya Arhamar Rahimin, berilah nikmat kepada kami dengan surga-Mu yang seluas langit dan bumi...
Aamiin… Ya Rabbal ‘Alamin.”

Hidupkan selalu khofi di hati untuk menuju ridho sang ilahi.

SALAM TQN 165X